Diskors Peradi, Hotma Sitompoel: Hebat Hotman Paris Bisa Atur Keputusan Maje「Football odds」lis Hakim

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:Phone lotto taruhan

Sebaliknya, piFootball oddshak pengacaFootball oddsra Hotma Sitompoel yang terdiri dari MFootball oddsuara Karta, Partahi Sihombing, hingga Tommy Sihotang dinyatakan bersalah dan harus menjalani hukuman skors dari Peradi.

Baca juga: Dinyatakan Tak Bersalah, Hotman Paris Minta Pihak Hotma Sitompoel Bertobat

"Saya akan naik banding dengan cara kita masing-masing. Tetapi saya juga akan melaporkan dia dan majelis ini kepada ketua DPN Peradi, Dr Otto Hasibuan," lanjutnya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.

Daftarkan email

JAKARTA, KOMPAS.com - Beberapa waktu lalu, pengacara kondang Hotman Paris dinyatakan tidak bersalah atas laporan pelanggaran kode etik profesi advokat yang diadukan Hotma Sitompoel.

Baca juga: Peradi Tolak Aduan Hotma Sitompoel, Hotman Paris Dinyatakan Tak Bersalah hingga Ungkap Pesan Ini

"Ini sudah berlebihan dan majelis ini sudah membuat suatu keputusan yang absurd. Kemudian bekerja sama dengan Hotman Paris, menyebarkan di media, masuk ke pasal pencemaran," tutur Hotma.

"Saya sungguh sedih karena keputusan majelis hakim soal Kode Etik Peradi ini. Saya sesali majelisnya ya. Bagaimana majelis bisa memutuskan seperti ini," lanjutnya.

Hotma mengaku kecewa dengan putusan Majelis Hakim Peradi atas aduannya tersebut.

Merasa dirugikan, Hotma Sitompoel bahkan berencana mengajukan banding atas putusan tersebut.

Atas putusan itu, Hotma Sitompoel mempertanyakan integritas Majelis Hakim Peradi.

"Di sini saya melihat malah Hotman Paris berhasil mengadu domba dan merusak Peradi, sehingga Peradi melanggar kode etik. Hebat Hotman Paris, bisa mengatur keputusan majelis," kata Hotma Sitompoel saat ditemui di kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Senin (4/10/2021).

Keputusan itu dinyatakan dalam sidang putusan Dewan Kehormatan (DK) Peradi DKI Jakarta yang digelar secara virtual, Rabu (29/9/2021).

Baca juga: Aduan soal Hotman Paris Ditolak, Hotma Sitompoel Pertanyakan Keputusan Majelis Hakim Peradi